TERORIS BUKAN SALAFI
وَٱلسَّـٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَـٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَـٰنٍ۬ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنۡہُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّـٰتٍ۬ تَجۡرِى تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيہَآ أَبَدً۬اۚ ذَٲلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ
Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama [masuk Islam] di antara orang-orang muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS.9:100)
عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَاريةَ رَضي الله عنه قَالَ : وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله عليه وسلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، وَذَرِفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ، فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَأَوْصِنَا، قَالَ : أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
<رَوَاه داود والترمذي وقال : حديث حسن صحيح>
Terjemah hadits / ترجمة الحديث :
Dari Abu Najih Al Irbadh bin Sariah radhiallahuanhu dia berkata : Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam memberikan kami nasehat yang membuat hati kami bergetar dan air mata kami bercucuran. Maka kami berkata : Ya Rasulullah, seakan-akan ini merupakan nasehat perpisahan, maka berilah kami wasiat. Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah ta’ala, tunduk dan patuh kepada pemimpin kalian meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena di antara kalian yang hidup (setelah ini) akan menyaksikan banyaknya perselisihan. Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap ajaranku dan ajaran Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk, gigitlah (genggamlah dengan kuat) dengan geraham. Hendaklah kalian menghindari perkara yang diada-adakan, karena semua perkara bid’ah adalah sesat “
(Riwayat Abu Daud dan Turmuzi, dia berkata : hasan shahih)
TENTANG SALAFI
<رَوَاه داود والترمذي وقال : حديث حسن صحيح>
Terjemah hadits / ترجمة الحديث :
Dari Abu Najih Al Irbadh bin Sariah radhiallahuanhu dia berkata : Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam memberikan kami nasehat yang membuat hati kami bergetar dan air mata kami bercucuran. Maka kami berkata : Ya Rasulullah, seakan-akan ini merupakan nasehat perpisahan, maka berilah kami wasiat. Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah ta’ala, tunduk dan patuh kepada pemimpin kalian meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena di antara kalian yang hidup (setelah ini) akan menyaksikan banyaknya perselisihan. Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap ajaranku dan ajaran Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk, gigitlah (genggamlah dengan kuat) dengan geraham. Hendaklah kalian menghindari perkara yang diada-adakan, karena semua perkara bid’ah adalah sesat “
(Riwayat Abu Daud dan Turmuzi, dia berkata : hasan shahih)
TENTANG SALAFI
SALAFI bukanlah firqoh. Bahkan salafi mengajak orang untuk meninggalkan firqoh-firqoh dan kembali ke ISLAM. Islam yang diajarkan & dijalankan Nabi SAW. Islam yg dipahami & diamalkan oleh para sahabat R.A., tabi’in & atba’ut tabi’in rohimahumulloh.
SALAFI memahami, mengamalkan, dan mengajak orang untuk menjalankan Islam seperti yang dipahami & diamalkan oleh salafushsholih. Maka salafi adalah mereka yg berusaha menjalankan agama & mengajak orang untuk menjalankan agama seperti agama yang dipahami & dijalankan salafushsholih. Dan itulah sebabnya mereka disebut SALAFIYYUN.
SALAFI adalah mereka yang menjalankan agama & mengajak orang untuk menjalankan agama berdasarkan AL-Quran dan alhadits ashshohihah (dengan pemahaman salafushsholih). Karena itulah mereka disebut juga AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH. Salafi adalah mereka yang berpegang teguh pada dalil (Alquran, Al-hadits ashohihah, & ijma’ para sahabat). Karena itu mereka menolak ta’asub kepada seorang imam atau ulama tertentu. Mereka akan mengikuti seorang imam bila pendapatnya sesuai dengan dalil-dalil yang shahih. Tetapi bila pendapatnya bertentangan dengan hadits-hadits yang shahih dan ijma’ para sahabat r.a., maka mereka akan meninggalkan pendapat imam tersebut dan mengikuti pendapat yang sesuai dengan hadits-hadits yang shahih dan ijma’ para sahabat.
Bagi seorang salafi, kebenaran adalah dalil (Alquran, Al-hadits ashohihah, & ijma’ para sahabat), bukan perkataan manusia dan bukan logika mereka. Mereka lebih percaya kepada Alloh & Rosulnya daripada perkataan manusia. Dan mereka lebih percaya kepada perkataan Alloh & Rosulnya daripada logika & perasaan manusia. Apa yang benar menurut mereka adalah apa yang dikatakan Alloh & Rosulnya sekalipun itu tidak sesuai dengan logika & perasaan mereka. Lalu pikiran & perasaan merekapun disesuaikan dengan apa yang dikatakan Alloh & Rosulnya. Sehingga mereka akan senantiasa berkata: ”Allohu wa Rosuluhu a’lam.” Alloh & Rosulnyalah yang tahu apa yang baik & apa yang benar dan mereka tidak tahu apa-apa.
Bila dalil telah jelas, baik dari Alquran maupun dari Alhadits, maka mereka tidak akan menimbang-nimbang lagi, mereka tidak akan berpikir-pikir lagi, dan mereka akan berkata, “sami’na wa atho’na”. Kami dengar dan kami ta’at.
إِنَّمَا كَانَ قَوۡلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ أَن يَقُولُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۚ وَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ
"Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum [mengadili] di antara mereka ialah ucapan." "Kami mendengar dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. 24:51)
وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٍ۬ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُ ۥۤ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ ۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَـٰلاً۬ مُّبِينً۬ا
"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak [pula] bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan [yang lain] tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." (QS. 33:36)
وَمَآ ءَاتَٮٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَہَٮٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya." (QS. 59:7)
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِىٓ أَنفُسِہِمۡ حَرَجً۬ا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمً۬ا
"Maka demi Tuhanmu, mereka [pada hakekatnya] tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. 4:65)
MASALAHNYA ADALAH DALIL
Mengapa salafi menolak diadakannya perayaan Maulud Nabi SAW, Tahlilan, Nifsyu Sya’ban, selamatan-selamatan; mengapa salafi menolak demonstrasi anti pemerintah, pemberontakan, dan bom bunuh diri, semata-mata karena dalil. Mengapa salafi menganggap pemerintahan seperti pemerintahan Indonesia, Malaysia, Brunei, Mesir adalah pemerintahan Islam yang wajib ditaati semata-mata karena dalil.
AGAMA YANG SEMPURNA
ISLAM telah sempurna (QS.5:3). Islam adalah Diin yang mengatur semuanya. Dari masalah adab buang hajat sampai masalah yang berhubungan dengan pemerintahan, maka Islam telah mengatur semuanya dengan suatu aturan yang apabila manusia mengikuti aturan tersebut niscaya akan terciptalah ketentraman dan kedamaian dalam kehidupan. Karena aturan itu berasal dari Pencipta manusia dan Pencipta kehidupan yang tahu persis karakter ciptaannya, apa yang membuatnya menjadi baik, dan apa yang akan membuatnya menjadi buruk. Dialah yang paling tahu apa yang paling baik bagi manusia dan kehidupan ini. Dan Alloh tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Karena itu aturan-aturan Alloh ini berlaku sampai berakhirnya kehidupan ini (Hari Kiamat). Dan dalam hal ini Alloh pun tahu bahwa nanti akan ada pemerintahan-pemerintahan Islam yang zalim sekalipun pemerintahan-pemerintahan itu tetap merupakan pemerintahan Islam sesuai syarat-syarat yang ditentukan Alloh dan Rosulnya. Maka Alloh & Rosulnyapun telah mengatur bagaimana menghadapi pemerintahan seperti itu.
PENTINGNYA HADITS
Al-Quran berisi prinsip-prinsip. Al-Hadits berisi kayfiyah untuk menjalankan prinsip-prinsip itu. Contohnya Al-Quran memerintahkan untuk mendirikan sholat, tapi Al-Quran tidak menjelaskan bagaimana cara melakukan sholat itu, waktunya, dan jumlah rokaatnya. Dari haditslah kita tahu semua itu. Maka Alquran membutuhkan penjelasan dari hadits (dengan syarat shahih atau hasan). Karena itu kita tidak akan tahu bagaimana kayfiyah sholat, zakat, puasa, haji, umroh, jual beli yang syar’i, pernikahan yang syar’i, system pemerintahan yang syar’i dan juga bagaimana bersikap kepada pemerintah jika hanya melihat Al-Quran dan tidak melihat panduannya dalam hadits-hadits yang shahih.
Karena itu kedudukan hadits sangat penting dalam Islam. Dari haditslah kita tahu bahwa Islam mengatur kehidupan sampai hal-hal yang kecil, seperti tidak boleh bermuka masam sesama muslim, menyingkirkan duri dari jalan, dll. Bahkan dari hadits pula kita tahu bahwa Islampun mengatur adab ketika membuang hajat, sesuatu yang barangkali sangat remeh dalm pandangan manusia. Dan dari hadits pulalah kita tahu bahwa pemerintahan dengan karakteristik seperti pemerintahan Indonesia adalah pemerintahan Islam yang wajib ditaati. Dan juga dari hadits pula kita tahu wajib hukumnya untuk taat kepada pemerintahan Islam sekalipun pemerintahan itu zalim. Semuanya itu adalah petunjuk Rosululloh SAW dalam menjalani kehidupan dari hal yang kecil sampai hal yang besar. Dan SALAFI adalah mereka yang berpegang teguh pada petunjuk Alloh dan Rosulnya dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
TERORIS BUKAN SALAFI
Maka, TERORIS BUKAN SALAFI. Kenapa? Karena mereka tidak berpegang kepada dalil, khususnya dalil dari hadits-hadits yang shahih dalam penetapan tentang kriteria pemerintahan Islam dan dalam menyikapi pemerintahan yang menurut dalil adalah pemerintahan Islam. Mereka hanya melihat kepada Al-Quran dan mereka meninggalkan hadits-hadits Rosululloh SAW dan juga perkataan para sahabat R.A. dan salafushsholih tentang kriteria pemerintahan Islam dan wajibnya taat pada pemerintahan islam.
Sedangkan SALAFIYYUN berpegang teguh dengan petunjuk Alloh & Rosulnya tentang masalah ini. Mereka menganggap pemerintahan Indonesia ini adalah pemerintahan Islam yang wajib ditaati (kecuali bila diperintah maksiat), tidak boleh memberontak, bahkan tidak boleh melakukan demonstrasi untuk menentang kebijakan pemerintah dan menuntut pengunduran diri amir (presiden) karena Islampun mengatur pula kayfiyah menasihati pemerintah (bukan dengan demonstrasi). Karena itu tidak ada dalam kamus seorang SALAFI SEJATI seperti IMAM AHMAD BIN HAMBAL untuk menggulingkan pemerintahan yang zalim seperti pemerintahan khalifah Al-Ma’mun yang bukan saja zalim bahkan sesat, padahal beliau rohimahulloh telah dipenjara & disiksa dengan zalim karena tidak mau mengikuti pendapat sang khalifah yang menyatakan bahwa A-Quran adalah makhluq.
Tetapi gerakan-gerakan Islam yang ada sekarang ini mereka melupakan tentang hadits-hadits dalam masalah ini sekalipun shahih. Mereka ingin menegakkan syariat Islam tetapi mereka meninggalkan syariat dalam masalah ini sebagaimana yang telah disampaikan Rosululloh SAW dalam hadits-haditsnya. Banyak yang mengira apa yang mereka lakukan itu adalah benar padahal itu bertentangan dengan petunjuk Rosululloh SAW. Maka, siapakah yang lebih tahu tentang apa yang benar dan apa yang baik buat manusia dan kehidupannya? ALLOHU WA ROSULUHU A’LAM.
Dari Hudzaifah Ibnul Yaman, bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:
يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ . قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ
Akan ada sepeninggalanku nanti para pemimpin yang tidak mengambil petunjukku dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan muncul pula di tengah-tengah kalian orang-orang yang hatinya adalah hati syaitan dalam wujud manusia. Aku (Hudzaifah) bertanya: “Apa yang harus aku lakukan jika aku mendapatinya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “(Hendaknya kau tetap) mendengar dan taat kepada penguasa, meskipun punggungmu dipukul dan hartamu dirampas, (tetap bersikaplah) mendengar dan taat!’. (Hadis Riwayat Muslim, no. 1847)
Dan Ummu Salamah berkata, bahawa Rasulullah bersabda:
سَيَكُوْنُ بَعْدِيْ اُمَرَاءُ ، فَتَعْرِفُوْنَ وَتُنْكِرُوْنَ ، فَمَنْ اَنْكَرَ فَقَدْ بَرِىءَ ، وَمَنْ كَرِهَ فَقَدْ سَلِمَ ، وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ ، قَالُوْا : اَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بَالسَّيْفِ ؟ قَالَ : لاَ ! مَااَقَامُوْا فِيْكُمُ الصَّلاَةَ
‘Akan ada sepeninggalanku nanti pemimpin (yang) kalian mengenalnya dan mengingkari (kejelekannya), maka barangsiapa membencinya (bererti) dia telah berlepas diri, dan barangsiapa mengingkarinya (berarti,) dia telah selamat. Akan tetapi barangsiapa yang meredhainya kejahatannya, akan mengikutinya. Para sahabat bertanya:“Wahai Rasulullah, Apakah tidak kita perangi saja mereka?” Beliau menjawab: “Jangan, selama mereka masih menegakkan solat.” (Hadis Riwayat Muslim, 1854)
Inilah diantara petunjuk Rosululloh dalam hal ketaatan kepada pemimpin. Apakah kita akan mengingkari hadits-hadits shahih ini? Apakah kita akan kufur terhadap petunjuk Rosululloh SAW. Inilah syariat yang diajarkan Nabi SAW dalam hal ketaatan kepada umaro' (pemimpin). Jadi apabila kita meninggalkan petunjuk Rosululloh SAW pada hakikatnya kita telah meninggalkan syariat Islam dalam masalah ini bukan menegakkannya. Apakah kita mengira syariat Islam itu hanyalah soal hudud? Tidak demi Alloh. Syariat Islam mengatur semuanyadari adab buang hajat sampai masalah imamah (kekuasaan). Apakah kita mengira syariat Islam tidak mengatur hubungan rakyat dangan amir? Sungguh, celakalah mereka yg beriman kepada sebagian syariat dan kufur kpd sebagian yang lain. Sungguh celakalah, mereka yg mengingkari perintah Rosululloh SAW utk taat dan mendengar kepada pemerintahan muslim selama sholat masih ditegakkan. Mereka menyeru manusia utk melakukan pemberontakan thd pemerintahan2 muslim. Bahkan mereka mereka menyeru manusia utk melakukan pemberontakan thd pemerintahan muslim yg menegakkan hudud spt Saudi Arabia. Diantara mereka adalah kelompok Al-Qaida. Mereka mengajak para pemuda untuk memberontak terhadap pemerintahan2 muslim yang dianggap kafir karena tidak menjalankan syariat islam secara utuh atau dianggap telah berwala' terhadap negara2 kafir. Sungguh, demi Alloh, mereka bukanlah salafi, mereka bukanlah ahlussunnah waljamaah. Mereka adalah khawarij, yg sdh ada sejak awal permulaan Islam, yaitu ketika mereka mengkafirkan khalifah arrosyid 'Ali bin Abi Tholib yg telah dijamin masuk surga. Dan merekapun melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Ali R.A. yg mereka anggap kafir.
Memang bila pikiran & perasaan yang kita ikuti, bila logika & emosi yang menjadi acuan, atau apabila kita hanya berlandaskan Al-Quran saja tanpa melihat petunjuk Rosululloh SAW dalam hadits-haditsnya yang shahih, maka kita mungkin ingin menggulingkan pemerintahan yang ada lalu kita menegakkan daulah Islam yang akan menegakkan syariat Islam secara kaffah. Tetapi ternyata tidak demikian petunjuk Rosululloh SAW . Ternyata Nabi SAW memerintahkan kita untuk taat kepada pemimpin selama sholat masih ditegakkan sekalipun pemimpin itu zalim dan tidak menjalankan pemerintahannya dengan petunjuk Rosululloh SAW.
Dan sikap seperti itulah yang ditunjukkan oleh salafushsholih pada era tabi'in ketika mereka berhadapan dengan khalifah yang zalim bahkan sangat zalim seperti khalifah Al-Hajjaj bin Yusuf. Mereka bersabar dan mereka tetap taat kepada khalifah (kecuali bila diperintah untuk berbuat maksiat) dan mereka menolak ajakan untuk memberontak kepada khalifah. Semoga Alloh merahmati mereka semuanya. Mereka (3 generasi awal Islam) adalah sebaik-baik generasi dalam sejarah umat Islam.
Maka demikianlah sikap ahlussunnah waljamaah. Yaitu mereka yang tidak mengikuti pikiran & perasaan mereka dalam menyikapi sesuatu, tetapi mereka tunduk dan patuh kepada petunjuk Rosululloh SAW dalam semua perkara termasuk dalam hal ketaatan kepada pemimpin, yaitu mereka akan taat kepada pemimpin selama sholat masih ditegakkan sekalipun pemimpin itu zalim dan tidak menjalankan pemerintahannya dengan petunjuk Rosululloh SAW.
Tetapi dikalangan gerakan Islam ada yang beranggapan bahwa ulama ahlussunnah adalah penjilat penguasa. Bahkan ada yang menganggap bahwa semua usaha menegakkan syariat Islam baik di Indonesia ataupu di negara lain selalu dihalangi oleh kelompok salafi. Ini semua adalah tuduhan diatas kebodohan bukan diatas ilmu. Ini adalah tuduhan orang-orang yang tidak mengerti & tidak menguasai dalil. Akan tetapi Ahlussunnah adalah mereka yang berprinsip AL-ILMU QOBLAL QOULI WAL AMAL (Berilmu sebelum berbicara dan beramal). Maka para ulama ahlussunnah adalah mereka yang tidak berfatwa dan tidak beramal, kecuali sesudah mereka benar-benar menguasai ilmu dalam permasalahan tersebut. Dan SALAFI adalah mereka yang berpegang teguh pada dalil, yaitu mereka berpendapat dan beramal dengan berpegang teguh pada dalil, bukan pada zhon (prasangka). Karena itu mereka tunduk & patuh pada petunjuk Rosululloh SAW baik dalam masalah sikap kepada penguasa maupun dalam masalah-masalah yang lain.
Dari Hudzaifah Ibnul Yaman, bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:
يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ . قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ
Akan ada sepeninggalanku nanti para pemimpin yang tidak mengambil petunjukku dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan muncul pula di tengah-tengah kalian orang-orang yang hatinya adalah hati syaitan dalam wujud manusia. Aku (Hudzaifah) bertanya: “Apa yang harus aku lakukan jika aku mendapatinya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “(Hendaknya kau tetap) mendengar dan taat kepada penguasa, meskipun punggungmu dipukul dan hartamu dirampas, (tetap bersikaplah) mendengar dan taat!’. (Hadis Riwayat Muslim, no. 1847)
Dan Ummu Salamah berkata, bahawa Rasulullah bersabda:
سَيَكُوْنُ بَعْدِيْ اُمَرَاءُ ، فَتَعْرِفُوْنَ وَتُنْكِرُوْنَ ، فَمَنْ اَنْكَرَ فَقَدْ بَرِىءَ ، وَمَنْ كَرِهَ فَقَدْ سَلِمَ ، وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ ، قَالُوْا : اَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بَالسَّيْفِ ؟ قَالَ : لاَ ! مَااَقَامُوْا فِيْكُمُ الصَّلاَةَ
‘Akan ada sepeninggalanku nanti pemimpin (yang) kalian mengenalnya dan mengingkari (kejelekannya), maka barangsiapa membencinya (bererti) dia telah berlepas diri, dan barangsiapa mengingkarinya (berarti,) dia telah selamat. Akan tetapi barangsiapa yang meredhainya kejahatannya, akan mengikutinya. Para sahabat bertanya:“Wahai Rasulullah, Apakah tidak kita perangi saja mereka?” Beliau menjawab: “Jangan, selama mereka masih menegakkan solat.” (Hadis Riwayat Muslim, 1854)
Inilah diantara petunjuk Rosululloh dalam hal ketaatan kepada pemimpin. Apakah kita akan mengingkari hadits-hadits shahih ini? Apakah kita akan kufur terhadap petunjuk Rosululloh SAW. Inilah syariat yang diajarkan Nabi SAW dalam hal ketaatan kepada umaro' (pemimpin). Jadi apabila kita meninggalkan petunjuk Rosululloh SAW pada hakikatnya kita telah meninggalkan syariat Islam dalam masalah ini bukan menegakkannya. Apakah kita mengira syariat Islam itu hanyalah soal hudud? Tidak demi Alloh. Syariat Islam mengatur semuanyadari adab buang hajat sampai masalah imamah (kekuasaan). Apakah kita mengira syariat Islam tidak mengatur hubungan rakyat dangan amir? Sungguh, celakalah mereka yg beriman kepada sebagian syariat dan kufur kpd sebagian yang lain. Sungguh celakalah, mereka yg mengingkari perintah Rosululloh SAW utk taat dan mendengar kepada pemerintahan muslim selama sholat masih ditegakkan. Mereka menyeru manusia utk melakukan pemberontakan thd pemerintahan2 muslim. Bahkan mereka mereka menyeru manusia utk melakukan pemberontakan thd pemerintahan muslim yg menegakkan hudud spt Saudi Arabia. Diantara mereka adalah kelompok Al-Qaida. Mereka mengajak para pemuda untuk memberontak terhadap pemerintahan2 muslim yang dianggap kafir karena tidak menjalankan syariat islam secara utuh atau dianggap telah berwala' terhadap negara2 kafir. Sungguh, demi Alloh, mereka bukanlah salafi, mereka bukanlah ahlussunnah waljamaah. Mereka adalah khawarij, yg sdh ada sejak awal permulaan Islam, yaitu ketika mereka mengkafirkan khalifah arrosyid 'Ali bin Abi Tholib yg telah dijamin masuk surga. Dan merekapun melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Ali R.A. yg mereka anggap kafir.
Memang bila pikiran & perasaan yang kita ikuti, bila logika & emosi yang menjadi acuan, atau apabila kita hanya berlandaskan Al-Quran saja tanpa melihat petunjuk Rosululloh SAW dalam hadits-haditsnya yang shahih, maka kita mungkin ingin menggulingkan pemerintahan yang ada lalu kita menegakkan daulah Islam yang akan menegakkan syariat Islam secara kaffah. Tetapi ternyata tidak demikian petunjuk Rosululloh SAW . Ternyata Nabi SAW memerintahkan kita untuk taat kepada pemimpin selama sholat masih ditegakkan sekalipun pemimpin itu zalim dan tidak menjalankan pemerintahannya dengan petunjuk Rosululloh SAW.
Dan sikap seperti itulah yang ditunjukkan oleh salafushsholih pada era tabi'in ketika mereka berhadapan dengan khalifah yang zalim bahkan sangat zalim seperti khalifah Al-Hajjaj bin Yusuf. Mereka bersabar dan mereka tetap taat kepada khalifah (kecuali bila diperintah untuk berbuat maksiat) dan mereka menolak ajakan untuk memberontak kepada khalifah. Semoga Alloh merahmati mereka semuanya. Mereka (3 generasi awal Islam) adalah sebaik-baik generasi dalam sejarah umat Islam.
Maka demikianlah sikap ahlussunnah waljamaah. Yaitu mereka yang tidak mengikuti pikiran & perasaan mereka dalam menyikapi sesuatu, tetapi mereka tunduk dan patuh kepada petunjuk Rosululloh SAW dalam semua perkara termasuk dalam hal ketaatan kepada pemimpin, yaitu mereka akan taat kepada pemimpin selama sholat masih ditegakkan sekalipun pemimpin itu zalim dan tidak menjalankan pemerintahannya dengan petunjuk Rosululloh SAW.
Tetapi dikalangan gerakan Islam ada yang beranggapan bahwa ulama ahlussunnah adalah penjilat penguasa. Bahkan ada yang menganggap bahwa semua usaha menegakkan syariat Islam baik di Indonesia ataupu di negara lain selalu dihalangi oleh kelompok salafi. Ini semua adalah tuduhan diatas kebodohan bukan diatas ilmu. Ini adalah tuduhan orang-orang yang tidak mengerti & tidak menguasai dalil. Akan tetapi Ahlussunnah adalah mereka yang berprinsip AL-ILMU QOBLAL QOULI WAL AMAL (Berilmu sebelum berbicara dan beramal). Maka para ulama ahlussunnah adalah mereka yang tidak berfatwa dan tidak beramal, kecuali sesudah mereka benar-benar menguasai ilmu dalam permasalahan tersebut. Dan SALAFI adalah mereka yang berpegang teguh pada dalil, yaitu mereka berpendapat dan beramal dengan berpegang teguh pada dalil, bukan pada zhon (prasangka). Karena itu mereka tunduk & patuh pada petunjuk Rosululloh SAW baik dalam masalah sikap kepada penguasa maupun dalam masalah-masalah yang lain.
وَمَآ ءَاتَٮٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَہَٮٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya." (QS. 59:7)
مَّن يُطِعِ ٱلرَّسُولَ فَقَدۡ أَطَاعَ ٱللَّهَۖ وَمَن تَوَلَّىٰ فَمَآ أَرۡسَلۡنَـٰكَ عَلَيۡهِمۡ حَفِيظً۬ا
مَّن يُطِعِ ٱلرَّسُولَ فَقَدۡ أَطَاعَ ٱللَّهَۖ وَمَن تَوَلَّىٰ فَمَآ أَرۡسَلۡنَـٰكَ عَلَيۡهِمۡ حَفِيظً۬ا
Barangsiapa yang menta’ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta’ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling [dari keta’atan itu], maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka . (Qs.4:80)
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِىٓ أَنفُسِہِمۡ حَرَجً۬ا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمً۬ا
"Maka demi Tuhanmu, mereka [pada hakekatnya] tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. 4:65)
وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS.4:115)
Wallohu A'lam.
وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS.4:115)
Wallohu A'lam.